Layangan: Kesenangan, Korban Nyawa dan Padamkan Listrik - Beritabali.com

Opini

Layangan: Kesenangan, Korban Nyawa dan Padamkan Listrik

Senin, 29 Juni 2020 | 13:00 WITA

beritabali/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Beberapa hari terakhir terakhir ini kita disuguhkan oleh lemah gemulai liak liuk layang-layang dengan berbagai ukuran besar yang menimbulkan kerugian bagi orang lain. Sebagai anugrah dari Sanghyang Rare Angon layangan sangat menghibur pemiliknya. 

Pilihan Redaksi

  • Layangan Cerdas Dorong Generasi Pintar
  • Tewas Terjerat Tali Layang-Layang, Ini Kata Keluarga Nyoman Losmen
  • Leher Terjerat Tali Layangan, Wayan Losmen Tewas
  • Namun layangannya tak jarang memakan korban, baik korban harta benda maupun korban nyawa, listrik pun padam saat tertimpa layangan, penikmat indahnya langit biru pun terganggu oleh layang-layang dan menggangu produktivitas orang lain karena listrik padam. Keberadaan layang-layang tidak dapat dibiarkan liar seperti saat ini. Pemerintah Daerah dan desa adat harus bersatu padu untuk mengatur dan mengendalikan layang-layang ini. Masyarakat, pemerintah, aparatur hukum dan PLN harus Bersatu padu untuk berubah.
    Layangan dipercaya merupakan anugrah dari Sanghyang Rare Angon yang tidak lain merupakan manifestasi Dewa Ciwa untuk menghibur anak-anak. Layangan dinaikkan oleh anak-anak setelah panen usai sambil mengembala di sawah dan menghibur, sebagai wujud syukur kepada Dewa Ciwa karena panen sudah sukses. Indahnya tiupan seluring Dewa Siwa telah mengundang angin mendesir untuk menaikkan layangan di atas areal persawahan. Tentu ini merupakan budaya yang adiluhung dan perlu dilestarikan untuk kesejahteraan masyarakat Bali dan bukan justru mengancam masyarakat Bali itu sendiri.
    Seiring dengan perjalanan waktu budaya layangan saat ini telah terjadi pergeseran yang luar biasa. Layangan dulu ukurannya kecil-kecil, seiring dengan perkembangan teknologi, dengan ketersediaan plastic ukuran besar, kain ukuran besar dan bisa dijarit dan disambung, maka layangan saat ini sangat besar. Layangan dalam ukuran besar dinaikkan dengan tali yang besar, sehingga sulit putus. 
    Tentu hal ini menimbulkan permasalahan baru. Layang-layang besar yang jatuh telah menimbulkan korban harta benda, sanggah/merajan yang hancur dihujam  oleh layangan yang munting. Genteng rumah juga pecah berantakan oleh terjangan langan yang besar tersebut. 
    Layangan juga telah memakan korban nyawa. Dari sebuah media online didapat berita bahwa: (1) Layangan telah membuat melayanganya nyawa pemuda berinisial YBS (21) di Jalan Tangkuban Perahu, Mojosongo, Jebres, Solo pada Kamis (11/6/2020) lalu. (2) Pada Kamis (18/6/2020) Korban meninggal di tempat dan selanjutnya adalah I Wayan Losmen (61), di Sesetan. 
    Polresta Denpasar sedang melakukan penyelidikan terkait hal tersebut, sekaligus memberikan imbauan kepada masyarakat agar berhati-hati saat bermain layangan dan pengendara roda dua juga lebih tertib," kata Kanit Laka Lantas Polresta Denpasar Iptu Ni Luh Tiviasih sebagaiman dilansir Antara di Denpasar. Haruskan akan jatuh korban berikutnya? 
    Haruskah karena menyalurkan kesenangan bermain layangan akhirnya berurusan dengan hukum, karena layangannya telah memakan korban nyawa orang lain? Tidakkah merasa berdosa karena perbuatan kita telah mengakibatkan nyawa orang lain melayang? Tidakkan merasa berdosa Ketika layangan kita merugikan orang lain? Masihkan manusia Bali percaya dengan karmaphala? Manusia Bali harus arif dengan memperkecil ukuran layangannya dan menerbangkannya tidak terlalu tinggi, dan bermain layangan di area terbuka hijau.
    Sebagai anugrah Sanghyang Rare Angon, layangan dibuat, diterbangkan untuk menghibur anak-anak. Saat ini budaya yang adi luhung tersebut telah bergeser, karena orang dewasa dan tua pun ikut main layangan. Orang dewasa dan tua yang semestinya produktif dan kreatif memajukan perekonomian keluarga di dalam wabah Covid-19 ini, justru sibuk bermain layangan, yang tidak produktif ini. 
    Manusia Bali yang terkenal gigih dan  kreatif,  saat ini lagi terbuai, pasrah dan justru tersesat bermain layangan. Sedangkan masyarakat lainnya yang bukan orang Bali gigih berbisnis mencari sesuap nasi dan mungkin juga sebuah mercy. Jika orang lain maju di era layang-layang ini, akankah manusia Bali merasa tersisihkan lagi di buminya sendiri? Sepertinya sebagaian manusia Bali sedang menggali kubur untuk dirinya sendiri, karena tidak produktif. 
    Dalam Budaya Bali layangan dinaikkan pada saat usai panen yang sukses, saat ini telah bergeser, layangan dinaikkan pada saat ekonomi terpuruk dan mengalami wabah covid-19. Sebagian kadang-kadang aneh manusia Bali ini, untuk mengisi perutnya mengharapkan bantuan sembako, namun di sisi lain mereka bermain layang-layang yang membutuhkan uang yang tidak sedikit, hal ini bukanlah kebutuhan pokok dalam kondisi pandemi saat ini.
    Kearifan lokal budaya Bali pada jaman dahulu memang luar biasa. Layangan pada jamannya diterbangkan di areal persawahan. Namun saat ini manusia Bali sudah tidak arif lagi, karena layangan diterbangkan di areal pemukiman. Sehingga jika layangan jatuh menghujam bumi akan menghancurkan pemukiman, bahkan memakan korban jiwa. Layangan yang dilengkapi lampu dan baterai, pada saat jatuh dapat menimbulkan konsleting dan memicu kebakaran atap ijuk sanggah/merajan, atau kebakaran pompa bensin serta area lain yang mudah terbakar. 
    Layangan yang jatuh di area pemukiman telah menimpa jaringan listrik PLN yang saat ini masih terbuka. Layangan yang jatuh ini telah mengakibatkan padamannya jaringan PLN. Jika listrik padam tentu hal ini akan mengganggu aktivitas prekonomian dan Kesehatan di era pandemi ini. Jika hal ini terjadi lagi-lagi yang dirugikan adalah orang-orang produktif untuk membangkitkan perekonomian Bali. 
    Orang-orang yang tidak produktif tolong bantu mereka yang produktif, dengan jalan jangan diganggu produktifitasnya, karena listrik padam ditimpa layangan. Manusia Bali harus mengembalikan kearifannya dengan menerbangkan layangannya di area terbuka hijau, bukan di pemukiman. PLN juga hendaknya harus melakukan perubahan-perubahan dalam jaringannya. PLN  hendaknya  mengurangi bagian-bagian jaringan-jaringan yang terbuka, sehingga dapat mengurangi potensi padam. PLN mesti memasang cover/tekep pada jaringannya sehingga bagian-bagian terbuka terlindungi, dan mengurangi potensi gangguan layangan.
    Manusia Bali saat ini sepertinya telah krisis kearifan, sehingga pendekatan-pendekatan hukum, penting dilakukan sebagai efek jera bagi pelakunya. Kepolisian harus mengusut tuntas permasalahan layangan di Sesetan yang telah memakan korban Nyawa. Tokoh masyarakat, dan tokoh adat harus mendukung aparat kepolisian untuk menegakkan aturan. Perlu dipahami oleh pemain layangan bahwa perbuatannya dapat mengakibatkan orang lain mati, dan dapat diancam Pasal 359 KUHP yang berbunyi sebagai berikut: Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun. 
    Dengan kejadian ini harus mampu menjadi efek jera bagi para pemain layangan. Bagi  Tokoh masyarakat dan tokoh adat hendaknya melakukan Tindakan yang dianggap perlu untuk mengendalikan layangan, seperti misalnya memberi himbauan, pengawasan bahkan dapat pula dibuat dalam bentuk perarem. Hal ini penting untuk melindungi warga adat secara keseluruhan. 
    Bagi pemerintah daerah daerah dalam hal ini Gubernur Bali, perlu menerbitkan Pergub untuk mengendalikan layangan ini. Sebagai sebuah produk budaya dan sarana rekreasi layangan tidak boleh punah, masyarakat tetap dapat bermain layangan, tetapi dengan ukuran, ketinggian, bahan, teknologi dan tempat tertentu. Pergub menjadi penting bagi aparat untuk mengawasi keberadaan layang yang dapat mengganggu orang lain, bahkan yang potensial mengancam harta benda, keselamatan dan jiwa orang lain.
    Penulis
    I W Jondra Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali

    Penulis : Opini

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Layang-layang Korban Nyawa PLN


    The Best Cargo Company in Bali - ADHI DARMA CARGO

    ADHI DARMA CARGO is an International Freight Forwarder  that established in 1995. Adhi Darma Cargo specialized in International Air Freight and Sea Freight Forwarder and Logistics  Transportation Solutions with it’s office and warehouse located  in Ubud - Bali, Indonesia. Call/WA : +6282339597441



    Opini Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Opini

    Berita Bali TV