Kereta Api di Bali, Antara Kontroversi dan Solusi - Beritabali.com

Opini

Kereta Api di Bali, Antara Kontroversi dan Solusi

Rabu, 12 Februari 2020 | 13:05 WITA

beritabali.com/ist/KAI

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Babak baru pembahasan usulan kereta api di Bali kembali dilakukan pada bulan Januari 2020. DPRD Bali melalui Komisi III meminta kejelasan terkait rencana pembangunan moda transportasi tersebut. Ada tujuh jalur rencana pembangunan lintasan kereta api di Bali sebagaimana rencana induk pembangunan Bali, lintas Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita). Rencana tersebut ditegaskan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, Ir. I Gde Samsi Gunarta, M.Appl.Sc.,
Kajian trase kereta yang telah ada sejak tahun 2016 ini memang penuh kontroversi. Dukungan terhadap pembangunan jalur kereta muncul sebagai respon terhadap keluhan atas transportasi rel yang belum tersedia sebagaimana objek pariwisata internasional di negara lain. Kepadatan transportasi di Bali yang semakin tumbuh juga berkontribusi pada ketidaknyamanan akses jalan yang semakin macet.
Kemacetan yang terus dikeluhkan atas jalur Bali Utara dan Selatan juga menjadi alasan mengapa kereta api di Bali ini digadang-gadang. Solusi atasi kemacetan dengan kereta api ini telah dibahas bahkan sejak tahun 2014 oleh wakil gubernur Bali pada periode tersebut, Ketut Sudikerta, dalam acara dialog publik yang dihadiri oleh utusan dari Dirjen Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan, SKPD terkait, anggota DPRD, pimpinan universitas perguruan tinggi, akademisi, dan perwakilan asosiasi Sedangkan pihak yang menyatakan bahwa Bali tidak memerlukan jalur kereta berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar antara kultur atau kebudayaan orang Bali dengan orang luar, dimana orang Bali tidak terbiasa menggunakan kereta api sebagai moda transportasi darat sehari-hari. 
“Kereta api ini harus dipikir ulang. Takutnya kereta api muter-muter tapi kosong. Biaya operasional besar bisa bangkrut nanti pemerintah,”, ujar Ketua Komisi I DPRD Bali, I Ketut Tama Tenaya (dikutip dari radarbali.jawapos.com/04/28/2019)
Tama menambahkan bahwa proyek kereta api di Bali ini perlu kajian matang agar pengadaannya tidak mubadzir. Tama khawatir bahwa adanya kereta api tersebut akan membebani pemerintah dalam pembiayaan operasional. 
Selain itu, muncul pendapat bahwa kereta api akan mematikan bisnis travel yang telah menjamur di Bali selama bertahun-tahun. Terlebih, mereka menyatakan bahwa Pemprov Bali telah membangun shortcut (jalan singkat) untuk mempercepat akses Bali Utara dan Selatan. Luas Bali yang kecil, menjadi alasan lain mengapa kereta api tidak diperlukan di Bali.
Lantas benarkah Bali memang membutuhkan moda transportasi kereta api?
Bali dengan segala daya tarik wisata telah berhasil menggaet 6.275.210 wisatawan mancanegara dari total 16.106.954 wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2019. Angka ini tumbuh 3.37% dari tahun sebelumnya.
Pada tahun 2018, pariwisata Bali menyumbang 40% dari devisa pariwisata nasional sebesar 7,6 miliar dolar AS yang setara sekitar Rp100 triliun. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Pariwisata pada periode tersebut, Arief Yahya. Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Pansus Ranperda Penyelenggaraan Ketenagakerjaan sekaligus Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta. 
Dalam kesempatan yang berbeda, Gubernur Bali, Wayan Koster menyatakan bahwa dari sektor pariwisata saja, devisa di Bali telah mencapai Rp150 triliun. Hal tersebut menunjukkan bahwa Bali berpotensi besar dalam hal kontribusi penerimaan negara. 
Banyaknya wisatawan mancanegara yang mengunjungi Bali tersebut perlu didukung dengan fasilitas kenyamanan yang memadai. Saat ini, wisatawan asing juga memilih kereta api sebagai salah satu pilihan transportasi favorit. Hal tersebut terlihat dari kegemaran mereka membagikan aktivitas berlibur di pulau Jawa menggunakan kereta api di akun sosial media.
Ketepatan waktu, kenyamanan dan keterjangkauan harga menjadi alasan utama. Terlebih, dengan kereta api, mereka bisa menikmati pemandangan alam Indonesia. Kondisi kenaikan jumlah transportasi darat di Bali sekitar 5% tiap tahunnya menjadikan perjalanan menggunakan kereta api menjadi lebih cepat.
Moda transportasi yang dikelola pemerintah haruslah memberi nilai plus dalam hal kontrol akan keamanan, hal yang tentu dibutuhkan oleh wisatawan mancanegara. Kereta api dilengkapi dengan petugas yang dikelola langsung oleh pemerintah. SOP tentang kereta api juga dalam kendali pemerintah. Jalur yang steril dari pedagang asongan dan selain penumpang menjadikan kereta api memiliki nilai keamanan yang lebih ketimbang transportasi darat lain.
Selain itu, kejelasan akan tarif harga menjadikan wisatawan dapat mengetahui dengan pasti dana yang diperlukan untuk transportasi.  Perencanaan biaya pariwisata menjadi lebih akurat.
Usulan jalur kereta ini diharapkan dapat mempermudah akses tempat pariwisata satu dengan tempat pariwisata lain. Terlebih, sebagai pelengkap dari rencana pembangunan bandara di wilayah Bali Utara, kereta api diperlukan para wisatawan untuk mempermudah akses mereka yang ingin berkunjung ke Bali Selatan sebagai primadona pariwisata Bali selama ini. 
Dengan mempertimbangkan jumlah wisatawan yang makin meningkat dan kebutuhan akan moda transportasi  yang aman, nyaman, terkontrol, dan harga yang terjangkau, kereta api patut dijadikan solusi. Tentunya hal ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak utamanya pemerintah setempat untuk melakukan sosialisasi kepada warga sekitar.
Penulis: Rahma Aziza Fitriana, pegawai Kementerian Keuangan di Provinsi Bali  

Penulis : Opini

Editor : Putra Setiawan


TAGS : Kereta Api Bali


Bali Tour Company | Bali Day Tours Packages | Bali Tours Activities

Best online Bali Tour Company Service for your holiday in Bali Islands by offer special Bali Day Tours Packages, Bali Activities Tour with Professional Bali Tours. Contact us Today 082340081861



Opini Lainnya :


Berita Lainnya

Trending Opini

Berita Bali TV