Covid-19 dan Nilai Luhur Semboyan Sam Ratulangi - Beritabali.com

Opini

Covid-19 dan Nilai Luhur Semboyan Sam Ratulangi

Sabtu, 23 Mei 2020 | 12:40 WITA

beritabali/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, NASIONAL.
Wabah yang melanda dunia saat ini, sungguh memprihatinkan. Semakin hari semakin bertambah saja korban, begitu pun semakin lama semakin menggemparkan se-antero dunia, bahkan menggegerkan lingkungan tempat tinggal kita, terutama ketika ada tetangga yang terkonfirmasi virus ini. 

Pilihan Redaksi

  • Pendidikan Adaptif: Wajah Baru Pendidikan Kini
  • Strategi Pemulihan Pariwisata Bali Pasca Pandemi Corona
  • Belog (Polos) Ajum di Masa Pandemi
  • Sekurang-kurangnnya amatan tidak lepas dari fakta banyaknya linimasa yang selalu memberitakan, meliput bahkan membagikan berbagai informasi perkembangan covid-19 ini. Bersamaan juga dengan kampanye yang terus menerus digalakkan oleh semua orang, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.
    Dalam keadaan yang demikian memprihatinkan ini, kita diuji dalam berbagai hal. Kendati begitu massif penyebarannya, berbagai upaya pun telah dan sementara dijalankan oleh semua orang. Adapun upaya-upaya yang dilakukan semua orang selalu bertujuan demi memutus mata rantai penyebaran virus ini. 
    Demikian pun, para pemikir, ilmuan dan pembelajar, terus menerus berusaha untuk menemukan cara mempertahankan diri di tengah wabah, pun juga mencoba menemukan cara mengatasi virus ini dengan berbagai eksperimen. Tak kurang dari ilmu kesehatan, kedokteran, hukum, sosial, bahkan filsafat, mencoba berpikir dan berefleksi tentang wabah ini. 
    Terkait dengan hal itu, penulis mencoba melihat sisi lain yang tidak kalah pentingnya, yakni belajar dari nilai luhur budaya di Minahasa, ‘si tou timou tumou tou’. Dalam keyakinan penulis, hal itu bisa dijadikan kekuatan untuk terus bergerak bersama dalam upaya meminimalisir penyebaran virus, bertahan dan tetap hidup dengan semangat kemanusiaan. 
    ‘Nilai luhur si tou timou tu mou tou’ perlu digaungkan terutama, di kala kita berada dalam bencana (non alam) seperti saat ini. Sebagaimana kita ketahui, si tou timou tumou tou adalah semboyan Sam Ratulangi, yang berarti ‘orang hidup untuk menghidupkan orang lain’. Konsep ini dipandang memiliki nilai luhur yang menyatu dengan jati diri orang Minahasa. 
    Fakta konsep ini tentu menunjukkan sebuah fakta konkret bahwa manusia memang hidup untuk menghidupkan orang lain. Tapi apakah mungkin manusia hidup untuk menghidupkan orang lain, mengingat ada juga orang yang hidupnya sendiri belum tentu mampu dihidupkannya? Amatan penulis hal itu sangat mungkin. Berkaca pada situasi kini, kita tidak bisa mengelak bahwa banyak sekali orang (manusia) yang saat ini turut serta berusaha untuk ‘menghidupkan orang lain’, dalam wujud membantu orang lain, berperan serta dalam kampanye-kampanye untuk mengatasi semakin meluasnya virus ini, dll. 
    Disinilah letak wujud dari ‘orang hidup untuk menghidupkan orang lain’. Dan dalam keadaan seperti inilah, justru kita harus menunjukkan ‘jati diri’ kita yang sebenarnya. Jati diri, yang hidup untuk menghidupkan orang lain, sekurang-kurangnya dalam perspektif penulis, adalah jati diri yang asli, yang mampu menyesuaikan dengan kondisi arus global, tanpa melupakan fondasi dasar (budaya).
      Sejalan dengan itu, budayawan Minahasa, Richard Siwu pernah menegaskan bahwa kebudayaan Minahasa, sebagaimana juga kebudayaan lainnya, adalah kebudayaan masyarakat, yang ciri-cirinya terungkap lewat nilai-nilai luhur kebiasaan yang tidak tertulis seperti si tou timou tumou tou, di mana kebiasaan-kebiasan tersebut diwariskan turun-temurun. Adapun kebiasaan-kebiasaan yang tidak tertulis tersebut, sangat mungkin untuk dijadikan ‘model’, bukan hanya oleh orang Minahasa, tapi oleh semua orang, siapa pun dan berasal dari mana pun dia. (Bdk. Siwu 2000)
    Maka, konsep jati diri manusia, belajar dari adagium Sam Ratulangi itu, juga merupakan petuah yang menegaskan kepada kita bahwa, manusia hidup, untuk menghidupkan orang lain. Walaupun ada pertimbangan bahwa tidak mudah manusia memberi kehidupan kepada orang lain. Memberi kehidupan sebatas kata atau nasihat tentu mudah, namun dalam fakta yang ada, sering terjadi banyaknya dekadensi (penurunan) nilai-nilai kebaikan dalam hidup masyarakat. 
    Toh demikian, kedalaman makna si tou timou tumou tou ini, ‘mewajibkan’ beberapa hal pokok yang bisa kita jadikan acuan dalam kehidupan. Hal-hal pokok tersebut yakni: Pertama, sikap terhadap sesama. Setiap kata dan ungkapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari sering kali kurang disadari lagi sebagai suatu tindakan yang baik. Misalnya, ungkapan masigi-sigian (saling menghormati), masawa-sawangan (saling membantu), maleo-leosan (hidup baik), dst. 
    Namun, substansi ungkapan-ungkapan ini tidak hanya dipahami secara harafiah, melainkan dalam rangka orientasi nilai dan makna yang hendak menjelaskan wawasan dan sikap kultural-religius tou Minahasa, yang berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia. (ibid.). Dengan hal pokok ini, nilai moral-etis yang terkandung dalam petuah Sam Ratulangi tentu akan dimaknai dengan benar.
    Penulis:
    Ambrosius M. Loho, M. Fil.  (Dosen Unika De La Salle Manado - Pegiat Filsafat)

    Penulis : Opini

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Covid-19 Semboyan Sam Ratulangi


    Tetap Produktif di Rumah dengan Biznet

    Tetap Produktif di Rumah dengan Biznet. Promo Instalasi hanya Rp. 100.000. Kontak : 082236906863, 085738119233



    Opini Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Opini

    Berita Bali TV