Mendongkrak Ekonomi di Masa Pandemi dengan Stimulus Gaji ke-13 - Beritabali.com

Opini

Mendongkrak Ekonomi di Masa Pandemi dengan Stimulus Gaji ke-13

Kamis, 23 Juli 2020 | 10:45 WITA

bbn/pixabay

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati secara resmi mengumumkan kebijakan pemberian gaji dan pensiun ke-13 bagi para ASN, TNI, dan Polri. Pemerintah akhirnya memutuskan memberikan gaji ke-13 sebagai salah satu upaya meningkatkan kemampuan masyarakat beraktivitas ekonomi termasuk mendukung kegiatan sekolah di tahun ajaran baru. 

Pilihan Redaksi

  • Pandemi Terus Bersemi, Apa Kabar Tenaga Kesehatan?
  • Wajah Desa Mandiri Pasca Pandemi
  • Kontradiksi Dampak Pandemi: Ekonomi atau Polusi?
  •  
    Kebijakan ini dikecualikan bagi para pejabat Eselon I dan II serta pejabat lainnya yang setara. Keputusan ini mungkin sudah lama dinanti-nanti karena sempat ditunda untuk dikaji kembali terkait kecukupan anggaran di masa pandemi. Di sisi lain, performa stabilitas ekonomi di masa pandemi menyebabkan para pemangku kebijakan sangat berhati-hati dalam menggunakan anggaran agar dapat selalu berjalan sebagai upaya pemulihan ekonomi nasional. 
     
    Dalam rangka realisasi kebijakan gaji ke-13 total anggaran yang disediakan mencapai Rp 28,5 triliun yang terdiri dari 6,73 triliun rupiah untuk gaji ASN pusat, 7,86 triliun rupiah untuk pensiun ke-13, dan 13,89 triliun rupiah untuk ASN daerah melalui APBD. Lantas, bagaimana kebijakan gaji ke-13 menyulap ekonomi saat pandemi kearah yang lebih baik?
     
    Struktur perekonomian Indonesia berdasarkan laporan Berita Resmi Statistik pada triwulan I masih didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan lebih dari separuh yaitu mencapai 58,14 persen. Selama musim pandemi pertumbuhan konsumsi rumah tangga melesu hingga minus 4,91 persen ketika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. 
     
    Corak yang sama juga terlihat pada perekonomian Bali. Pada triwulan yang sama kontribusi komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga mampu berkontribusi hingga 51,44 persen meskipun harus babak belur tumbuh melambat hingga minus 4,67 persen pada triwulan yang sama di tahun 2019. Perlambatan konsumsi rumah tangga diduga akibat mulai menjalarnya dampak penyebaran wabah virus corona sejak awal Maret 2020. 
     
    Perekonomian Bali yang berbasis industri pariwisata bahkan harus menelan kenyataan pahit sejak ditutupnya penerbangan dari dan ke Tiongkok tanggal 5 Februari 2020. Akibatnya, kunjungan wisatawan semakin menurun dan perekonomian pun mengalami kontraksi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka cukup logis untuk mendongkrak perekonomian dengan mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga melalui stimulus gaji ke-13. 
     
    Momentum dimulainya tahun ajaran baru cukup sejalan dengan kebijakan  gaji ke-13. Pada periode ini kemungkinan pola konsumsi rumah tangga dengan angota rumah tangga yang sedang bersekolah diprediksi cenderung meningkat. Kebutuhan konsumsi seperti seragam baru, keperluan pendaftaran sekolah, pembelian paket data ataupun perangkat pembelajaran lainya diduga menjadi beberapa jenis komoditas yang konsumsinya meningkat pada tahun ajaran baru di masa pandemi. 
     
    Meskipun pembelajaran efektif masih ditetapkan dilakukan secara daring, tambahan konsumsi barang kebutuhan sekolah yang awalnya seperti buku, tas sekolah, dan sepatu sekolah mungkin akan sedikit bergeser ke komoditas penunjang pembelajaran lainnya selama belajar dari rumah. 
     
    Penerapan kebijakan physical distancing dilaporkan berdampak positif terhadap pola konsumsi masyarakat selama pandemi. Tren memasak dan makan di rumah dilaporkan meningkat dari hasil Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik. Dengan meningkatnya waktu berkumpul anggota keluarga di rumah, tingkat belanja makanan baik bahan mentah maupun makanan siap konsumi menjadi lebih tinggi. 
     
    Selama masa bekerja dari rumah komoditas belanja rumah tangga yang meningkat diantaranya yaitu bahan makanan sebesar 51 persen, belanja kesehatan 20 persen, biaya pulsa dan paket data 14 persen, belanja makanan dan atau minuman jadi 8 persen serta biaya listrik sebesar 3 persen.
     
    Temuan ini menegaskan bahwa selama pandemi konsumsi rumah tangga berpotensi terus meningkat. Dengan demikian untuk menunjang fenomena tersebut pemerintah akhirnya memutuskan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dengan memberikan gaji ke-13 agar mampu menggerakkan roda perekonomian regional maupun nasional.
     
    Kebijakan gaji ke-13 tentunya menjadi angin segar bagi kelompok penerima di masa pandemi. Berdasarkan data dari Badan Kepegawaian Negara disebutkan  bahwa per 31 Desember 2019 statistik ASN tercatat sebanyak 4.189.121 orang. Dari jumlah tersebut hanya pejabat eselon I yang tercatat sebanyak 625 orang dan eselon II 19.345 orang tidak dianggarkan sebagai penerima gaji ke-13. 
     
    Perhitungan tersebut belum termasuk anggota TNI, Polri yang juga ditargetkan akan menerima gaji ke-13 nanti di bulan Agustus. Kelompok tersebut hanyalah sebagian kecil dari total jumlah penduduk  Indonesia yang diproyeksi akan mencapai 271 juta jiwa pada tahun 2020. Dampak sosial dari kebijakan tersebut mungkin memicu kecemburuan sosial bagi kelompok lapisan masyarakat lainnya yang bukan menjadi target penerima. 
     
    Meskipun demikian perlu digarisbawahi bahwa pemerintah juga telah menyediakan anggaran yang tidak sedikit untuk membiayai program nasional penanganan pandemi Covid-19 yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020. Kebijakan ekstraordinary pemerintah menganggarkan dana sebesar 695,2 triliun rupiah. Dana tersebut akan dialokasikan untuk penanggulangan di bidang kesehatan sebesar 87,55 triliun rupiah, perlindungan sosial 203,90 triliun rupiah, program sektoral melalui Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah sebesar 106,11 triliun rupiah. 
     
    Selain itu pemerintah juga menyiapkan dana sebesar 123,46 triliun rupiah untuk UMKM, 53,57 triliun rupiah untuk pembiayaan korporasi, dan suntikan dana usaha sebesar 120,61 triliun rupiah. Dengan demikian kucuran dana diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi semua lapisan masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Pepatah mengatakan banyak jalan menuju Roma mungkin analog dengan banyak jalan yang harus ditempuh untuk keluar dari jebakan pandemi Covid-19, salah satunya yaitu gaji ke-13. Semoga ekonomi nasional segera pulih dan Indonesia segera kembali ke peta jalur pembangunan menuju Indonesia Maju 2045.
    I Gede Heprin Prayasta Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi  Universitas Udayana

    Penulis : Opini

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : ASN Gaji Ke-13 Perekonomian Bali Pandemi


    The Best Cargo Company in Bali | Air and Sea Shipping in Bali

    We are Your Experienced and Reliable Freight Forwarding Partner in Bali. Bali Cargo, Bali Freight Forwarder, Bali Shipping. Worldwide Cargo Logistics and Freight Forwarder in Bali, Air Freight Services, Sea Freight Services. Contact us Today 0811388874



    Opini Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Opini

    Berita Bali TV