Bali di Ambang Resesi? - Beritabali.com

Opini

Bali di Ambang Resesi?

Senin, 27 Juli 2020 | 12:05 WITA

bbn/pixabay

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Pandemi Covid-19 telah memberi dampak yang cukup besar ke berbagai sisi kehidupan masyarakat global termasuk Bali. Banyak pekerja yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dirumahkan, dan pemotongan gaji. 

Pilihan Redaksi

  • Rekonstruksi Pariwisata Budaya Pasca Pandemi
  • Mendongkrak Ekonomi di Masa Pandemi dengan Stimulus Gaji ke-13
  • Pandemi Terus Bersemi, Apa Kabar Tenaga Kesehatan?
  • Mereka yang paling merasakan akibat pandemi ini adalah masyarakat yang bekerja di sektor informal yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari pendapatan harian. Hingga 26 Mei 2020, Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Bali mencatat sebanyak 75.976 pekerja terdampak pandemi Covid-19, sesuai berita yang dirilis Nusa Bali pada 3 Juni 2020. 
    Berbagai pihak memang mengkhawatirkan dampak pandemi terutama pada performa ekonomi. Apakah pandemi ini akan memicu adanya resesi? 
    Mengutip catatan ekonom Faisal Basri pada laman resminya faisalbasri.com pada 23 Juli 2020, resesi ekonomi didefinisikan sebagai penurunan signifikan aktivitas ekonomi secara meluas yang terjadi dalam beberapa bulan atau beberapa triwulan atau bahkan beberapa tahun yang ditunjukkan oleh kemerosotan Produk Domestik Bruto (PDB) riil. 
    Seiring dengan itu pengangguran melonjak, pendapatan turun, dan penjualan eceran merosot. Resesi biasanya diakui setelah dua quartal berturut-turut mengalami penurunan ekonomi.
    Lalu bagaimana dengan Bali? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, ekonomi Bali pada triwulan I 2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp60,60 triliun dan berdasarkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tercatat sebesar Rp38,65 triliun. 
    Besaran PDRB ADHK jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year), didapatkan pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I tahun 2020 tumbuh -1,14 persen. Pada sisi lapangan usaha, pertumbuhan negatif terdalam dicatatkan oleh Kategori I (Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum) yaitu sebesar -9,11 persen. 
    Kategori ini merupakan lapangan usaha utama dalam keberlangsungan industri pariwisata di Bali. Ekonomi Bali yang mengandalkan industri pariwisata selain bergantung pada keadaan di dalam Bali sendiri, tentu sangatlah bergantung dari keadaan eksternal atau keadaan di luar Bali. Kasus Covid-19 pertama kali menghantam Tiongkok yang merupakan salah satu pangsa pasar utama pariwisata Bali. 
    Terlihat dari data kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) asal negeri tirai bambu ini menunjukkan penurunan yang cukup dahsyat. Kedatangan wisman asal Tiongkok pada Januari-Mei 2020 tercatat turun -77,27 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 
    Begitupula halnya yang terjadi pada wisman dari negara-negara lainnya seperti Australia (turun -48,56 persen), India (turun -54,92 persen), wisman asal Jepang turun -49 persen, dan wisman asal Amerika Serikat yang turun -54,33 persen. 
    Dengan adanya situasi ini, Bali merupakan provinsi pertama yang terdampak Pandemi Covid-19 di Indonesia. Bagaimana  potret situasi indikator kesejahteraan sosial di Bali akibat kontraksi ekonomi yang terjadi pada triwulan I 2020?
    Indikator persentase penduduk miskin di Provinsi Bali yang awalnya telah menunjukkan adanya tren penurunan, setidaknya dalam tiga tahun terakhir, kembali mencuat naik pada Maret 2020. Berdasarkan data BPS Provinsi Bali, jumlah penduduk miskin di Bali tercatat sekitar 165,19 ribu orang, tercatat mengalami kenaikan sekitar 8,3 ribu orang dari sebelumnya pada September 2019 tercatat sekitar 156,91 ribu orang. 
    Jika dihitung secara persentase, penduduk miskin di Bali tercatat sebesar 3,78 persen, meningkat sebesar 0,17 persen poin jika dibandingkan dengan kondisi September 2019. Dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS)  diperoleh Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Bali mengindikasikan hal yang sejalan. 
    Terjadi kenaikan persentase TPT pada Februari 2020 dibandingkan kondisi Februari 2019 dari semula tercatat 1,19 persen pada Februari 2019, menjadi 1,21 persen pada tahun berikutnya. Walaupun mengalami peningkatan,  tingkat pengangguran di Bali adalah capaian terendah dari seluruh provinsi di Indonesia. 
    Stabilitas ekonomi Bali pada triwulan II 2020 memang belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Jumlah kasus positif Covid-19 semakin bertambah bahkan menembus angka 3000 kasus. 
    Artinya penyebaran Virus Corona masih cukup masif dan menjadi tantangan berat. Di sisi ekonomi, pariwisata yang merupakan tulang punggung perekonomian Bali belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. 
    Begitu pula lapangan usaha pertanian dalam arti luas yang merupakan share terbesar kedua (sekitar 13,67 persen) belum pula menampakkan dongkrak yang kuat sebagai alternatif penopang ekonomi Bali di saat pandemi. Hal ini terlihat dari turunnya share kategori ini dari waktu ke waktu. 
    Selain karena keterbatasan lahan yang sudah banyak teralih fungsi, keterampilan dan minat anak-anak muda jaman now tidak banyak yang tertarik untuk menggeluti pertanian. Mempertimbangkan tantangan dan kendala tersebut, nampaknya masih cukup sulit untuk menyatakan optimis perekonomian Bali pada triwulan II 2020 lebih baik dari triwulan I 2020. 
    Berbagai langkah telah diupayakan oleh pemerintah daerah guna mempercepat penanganan Covid-19. Pemerintah Provinsi Bali dalam hal ini telah melakukan realokasi APBD 2020 untuk penanganan Covid-19 senilai Rp756 miliar. Realokasi anggaran tersebut dibagi menjadi tiga kelompok penanganan Covid-19. 
    Kelompok itu meliputi penanganan kesehatan sebesar Rp275 miliar, penanganan ekonomi Rp220 miliar dan kelompok penanganan dampak terhadap masyarakat Rp261 miliar. 
    Pandemi Covid-19 menjadi momentum tepat bagi Bali untuk membidik pasar wisatawan yang lebih baik sebagai salah satu strategi pemulihan ekonomi. 
    Dengan informasi protokoler kesehatan tetap dilakukan dan aman, akan dapat menjaring “wisatawan kaya” yang tentu saja tidak akan protes jika membayar lebih mahal untuk liburan yang sempurna di Bali. Dengan asumsi wisatawan kaya lebih melek terhadap informasi dan edukasi tentang pencegahan Covid-19 sehingga akan tetap mematuhi protokoler pencegahan Covid-19. 
    Bukan sebaliknya dengan cara menggratiskan atau membanting tarif tempat-tempat wisata. Pertama, hal tersebut tidak akan dapat menggenjot perekonomian Bali secara baik, dan tentu saja, kita harus tetap membatasi dan memastikan adanya jarak aman antar wisatawan sehingga gelombang kedua penyebaran Covid-19 tidak akan terjadi. 
    Setidaknya pemulihan ekonomi akan berjalan sangat lambat jika penanganan kesehatan tidak menjadi prioritas yang utama. Saatnya menakar kualitas bukan hanya berpacu mengangkat kuantitas. Setelah cukup terpukul hebat akibat pandemi, apakah Bali mampu menghindar dari  jebakan  resesi pada triwulan II? Kita tunggu saja laporan dari BPS beberapa hari yang akan datang. 
    Penulis
    Ni Luh Putu Dewi Kusumawati, SST, M.Si Bekerja di Badan Pusat Statistik Provinsi Bali

    Penulis : Opini

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Pandemi Covid-19 Resesi Ekonomi Bali Virus Corona


    The Best Cargo Company in Bali | Air and Sea Shipping in Bali

    We are Your Experienced and Reliable Freight Forwarding Partner in Bali. Bali Cargo, Bali Freight Forwarder, Bali Shipping. Worldwide Cargo Logistics and Freight Forwarder in Bali, Air Freight Services, Sea Freight Services. Contact us Today 0811388874



    Opini Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Opini

    Berita Bali TV