Membidik Optimisme Bangkit dari Ambang Resesi Ekonomi Pandemi - Beritabali.com

Opini

Membidik Optimisme Bangkit dari Ambang Resesi Ekonomi Pandemi

Sabtu, 01 Agustus 2020 | 10:00 WITA

bbn/pixabay

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Situasi perekonomian di tengah pandemi telah memasuki triwulan III tahun 2020. Sebentar lagi laporan capaian performa ekonomi triwulan II akan segera dirilis oleh Badan Pusat Statistik. 

Pilihan Redaksi

  • Kasus Sabu-sabu Meningkat Saat Pandemi Covid-19
  • Belajar di Bale Banjar: Potret Pendidikan di Tengah Pandemi
  • Rekonstruksi Pariwisata Budaya Pasca Pandemi
  • Laporan ini tentu dinanti-nanti mengingat berbagai stimulus telah diupayakan pemerintah untuk menanggulangi dampak penyebaran wabah virus korona. Beberapa negara di Asia sudah melaporkan kontraksi yang sangat dalam atas perekonomian di negara mereka. 
    Singapura melaporkan perekonomian mereka terkontraksi hingga 41 persen pada triwulan II tahun 2020. Fenomena yang sama terjadi di negeri Ginseng, Korea Selatan. Pada triwulan yang sama perekonomian Korea Selatan dilaporkan kontraksi sedalam 3,3 persen. 
    Jepang juga tidak mampu mengelak dari bidikan resesi setelah pangsa pasar ekspor terbesarnya yaitu Tiongkok mengalami perlambatan ekonomi yang kemudian berdampak bagi perekonomian Jepang terkontraksi sebesar 1,8 persen di triwulan II tahun 2020.
    Perekonomian global yang belum sepenuhnya stabil akibat pandemi  membawa dampak berkelanjutan bagi perekonomian negara-negara di seluruh dunia. Indonesia sendiri memiliki struktur ekonomi yang hampir separuh lebihnya (58,14 persen) pada triwulan I 2020 ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Corak perekonomian ini pun senada dengan struktur perekonomian Bali (51,44 persen) pada triwulan yang sama. 
    Struktur ini berbeda dengan ketiga negara Asia yang sudah terlebih dulu mengumumkan capaian perekonomian yang melambat drastis pada triwulan II tahun 2020. Berdasarkan komponen pengeluaran, struktur Korea Selatan dan Jepang sangat mengandalkan komponen ekspor-impornya sebagai basis perekonomian. 
    Menyadari corak yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga pemerintah Indonesia pun telah mengucurkan dana yang tidak sedikit. Sasaran utamanya adalah meningkatkan komponen konsumsi rumah tangga dengan menjaga daya beli masyarakat. Skema penanganan Covid-19 disiapkan lewat payung hukum Perpres 72/2020 dengan alokasi dana sebesar Rp695,2 triliun. Upaya ini jelas menjadi salah satu optimisme ekonomi Indonesia termasuk Bali agar tidak terkontraksi semakin dalam ke dalam jurang resesi ekonomi pandemi.
    Provinsi Bali merupakan salah satu provinsi yang perkonomiannya paling terpukul akibat pandemi Covid-19. Pada triwulan I tahun 2020 perekonomian Bali hanya mampu menahan gempuran pandemi hingga kontraksi 1,14 persen dibandingkan dengan triwulan I 2019. Ditinjau dari lapangan usaha, kategori industri yang paling babak belur adalah industri akomodasi makanan dan minuman yang kontraksi  9,11 persen. 
    Tidak dapat dipungkiri penutupan penerbangan dari dan ke Tiongkok sejak 5 Februari 2020 telah menyebabkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara turun drastis. Padahal awal tahun 2020 merupakan perayaan Imlek yang biasanya menempatkan Bali sebagai destinasi wisata nomor satu pilihan wisatawan Tiongkok. Pundi-pundi industri pariwisata pun menguap hanya menjadi mitos belaka. Akibatnya, perekonomian Bali melesu dan perlahan menjalar ke kategori industri lainnya hingga kini. 
    Pandemi Covid-19 menjadi ujian kesekian kalinya bagi basis perekonomian Bali. Beberapa peristiwa penting seperti tragedi Bom Bali I dan Bom Bali II, krisis keuangan global serta erupsi Gunung Agung sempat membuat perekonomian Bali ketar-ketir. Namun, tahap pemulihan akibat fenomena tersebut nampaknya berjalan lebih cepat dibandingkan dengan kondisi pandemi saat ini. 
    Ketika terjadi guncangan pada salah satu komponen industri perekonomian maka kecenderungan periode pemulihannya relatif lebih cepat dibandingkan ketika guncangan menyerang semua lini seperti yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Meskipun secara total tumbuh melambat dibandingkan triwulan I tahun 2019, perekonomian Bali masih menyisakan optimisme pada 11 kategori industri komponen perekonomian Bali yang justru tumbuh positif. 
    Tiga kategori yang tumbuh melesat yaitu industri informasi dan komunikasi tumbuh paling tinggi sebesar 0,53 persen kemudian industri jasa keuangan yang tumbuh sebesar 0,31 persen serta administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 0,38 persen. Ketiga kategori industri tersebut menjadi oase tumpuan perekonomian Bali untuk menghindar dari jurang resesi ekonomi pandemi.
    Pemerintah di berbagi tatanan terus berupaya menggairahkan kembali roda perekonomian. Secara resmi gubernur Bali menetapkan dimulainya adaptasi kebiasan baru dimulai per 9 Juli 2020 bersama bupati dan walikota se-Bali. Pada tahap awal, fase ini membuka obyek wisata untuk wisatawan lokal. Kemudian per tanggal 31 Juli 2020, obyek wisata mulai dibuka untuk wisatawan nusantara. Momentum ini menjadi angin segar industri pariwisata Bali yang nyaris mati suri selama beberapa bulan terakhir. 
    Lonjakan kunjungan wisatawan lokal juga terus meningkat ditandai dengan kembali macetnya akses ke tempat wisata seperti Bedugul dan ramainya pengunjung Pantai Sanur pada libur akhir pekan perayaan Hari Raya Idul Adha. Fenomena lain yang  tercatat terjadi di tengah triwulan II adalah adanya perayaan hari raya keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri bagi umat muslim serta Hari Raya Saraswati dan Pagerwesi yang mungkin berdampak pada konsumsi rumah tangga terutama umat hindu yang menjadi mayoritas penduduk Bali. 
    Fenomena ini tentu menjadi sumber optimisme mengindar dari jebakan krisis pandemi. Meskipun demikian protokol kesehatan seyogyanya harus tetap dipedomani untuk meminimalisir transmisi lokal penyebaran wabah virus corona. Perekonomian boleh digenjot tetapi protokol kesehatan juga tidak boleh kendor.
    Badai pandemi mungkin belum berakhir namun upaya untuk bangkit harus terus diupayakan. Strategi pemerintah pun direncanakan akan terus berlanjut di bulan Agustus seperti misalnya rencana pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, TNI, Polri selain pejabat eselon II. 
    Pemerintah Provinsi Bali juga menyiapkan program Pasar Gotong Royong Krama Bali yang rencana akan dibuka mulai awal Agustus untuk memberdayakan petani berbasis produk lokal. Optimisme untuk bangkit dari ambang resesi tidak boleh surut.  Apapun capaian di triwulan II 2020 selalu ada acara untuk Bali, bangkit!
    I Gede Heprin Prayasta Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Udayana  

    Penulis : Opini

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Perekonomian Bali Pandemi Covid-19 Resesi Protokol Kesehatan


    Bali Tour Company | Bali Day Tours Packages | Bali Tours Activities

    Best online Bali Tour Company Service for your holiday in Bali Islands by offer special Bali Day Tours Packages, Bali Activities Tour with Professional Bali Tours. Contact us Today 082340081861



    Opini Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Opini

    Berita Bali TV