Bawang Putih Sebagai Pengganti Formalin dalam Pengawetan Makanan - Beritabali.com

Opini

Bawang Putih Sebagai Pengganti Formalin dalam Pengawetan Makanan

Rabu, 13 Oktober 2021 | 13:45 WITA
Bawang Putih Sebagai Pengganti Formalin dalam Pengawetan Makanan

beritabali/ist/Bawang Putih Sebagai Pengganti Formalin dalam Pengawetan Makanan.

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Penggunaan bawang putih diprediksi pertama kali berawal dari wilayah Asia Tengah. Perkirakan tersebut berdasarkan bukti temuan sebuah rekam medis sekitar 5000 tahun yang lalu  yaitu sekitar 3000 SM. 
Perkembangan di Asia Tengah kemudian tersebar ke berbagai belahan dunia dan juga ke Indonesia. Sejak tahun 2600-2100 bangsa Sumeria telah menggunakan bawang putih untuk pengobatan. Bangsa Mesir memanfaatkan bawang putih untuk mempertahankan stamina tubuh pekerja dan olahragawan sejah 1550 SM. 
Penggunaan bawang putih oleh Bangsa Mesir kemudian ditiru oleh bangsa Yahudi kuno dan sekaligus menyebarkan pemanfaatan bawang putih ke Semenanjung Arab. Penduduk Romawi terutama kalangan budak dan para tentara juga telah lama mengkonsumsi bawang putih. 
Begitu juga bagi penduduk Cina dan Korea yang menggunakan bawang putih sebagai pengusir roh jahat dan obat. Jika dicermati bawang putih tumbuh dengan membentuk umbi lapis. Dalam satu umbi lapis terdiri dari 8-20 siung atau yang lebih lumrah disebut sebagai anak bawang. Masing-masing siung terpisahkan oleh kulit yang tipis dan liat. 
Kulit-kulit tipis tersebut membentuk satu kesatuan yang rapat dan kuat. Bawang putih tumbuh secara berumpun dengan berdiri tegak dengan tinggi sekitar 30-75 cm dan biasa dikenal sebagai tanaman herbal parenial. Bawang putih memiliki batang semu yang berupa pelepah daun yang biasanya terlihat seperti bagian batang yang nampak diatas permukaan tanah. 
Padahal batang yang sebenarnya tertanam di dalam tanah. Terdapat sekitar 100 metabolit sekunder dalam bawang putih. Metabolit sekunder tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan diri dari kerusakan yang diakibatkan oleh mikroorganisme dan faktor luar lainnya. 
Metabolit sekunder ini kebanyakan mengandung belerang yang bertanggungjawab dalam hal sifat-sifat farmakologi bawang putih, rasa, dan aroma (Udhi Eko Hernawan & Ahmad Dwi Setyawan, 2003).
Darmadi dan  Riska Habriel Ruslie dari RSUD Z.A. Pagar Alam, Lampung dalam tulisanya berjudul “Peranan Bawang Putih Terhadap Hipertensi” menjelaskan bahwa bawang putih sudah lama digunakan sebagai penyedap rasa dan mempunyai keuntungan dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. 
Bawang putih dimasukkan dalam klasifikasi obat herbal karena kemampuannya dalam memberi efek relaksasi otot polos pembuluh darah. Studi eksperimental juga memberikan gambaran  adanya beberapa efek dari bawang putih, termasuk efek aktivasi sintesis nitric oxide endotel dan hiperpolarisasi membran sel otot, sehingga dapat menurunkan tonus pembuluh darah. Sejak zaman Mesir kuno, bawang putih telah digunakan dalam upaya diet. 
Halaman :

TAGS : Bawang Putih Bumbu Dapur Basilus Tuberkulosis Ria Mariana Mustafa Peneliti Kadar Kolesterol Keracunan Formalin Bahan Berbahaya Stamina Tubuh Bahan Kimia Obat Herbal Serotonin Berita Bali Berita Bahasa Bali Berita Berbahasa Bali Berita Bali Terkini Berita


Ingin produk atau jasa Anda muncul di setiap akhir berita?

Ingin produk atau jasa Anda muncul di setiap akhir berita? Hubungi DIVISI BISNIS Beritabali.com



Opini Lainnya :


Berita Lainnya

Trending Opini

Berita Bali TV