Meraih Cuan dari Sampah RT dengan Budidaya Maggot - Beritabali.com

Opini

Meraih Cuan dari Sampah RT dengan Budidaya Maggot

Sabtu, 27 November 2021 | 23:00 WITA
Meraih Cuan dari Sampah RT dengan Budidaya Maggot

beritabali/ist/Meraih Cuan dari Sampah RT dengan Budidaya Maggot.

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Meringankan beban petugas pengangkut sampah. Otomatis jika sampah sudah dipilah dan diolah menjadi pakan maggot, akan berdampak dipengurangan sampah yang akan di buang ke TPA. Dan jika sampah makanan sudah diolah menjadi pakan maggot,akan terjadi siklus ekonomi karena kita tidak membeli pakan untuk maggot dan maggot kalaw sudah besar kita bisa jual dan akan mendapatkan cuan.
Penumpukan sampah organik pada tempat penampungan akhir (TPA), sebetulnya menimbulkan masalah baru bagi masyarakat sekitarnya. Sampah organik dapat mengalami perubahan melalui dekomposisi anaerobik, sehingga menimbulkan bau busuk dan pelepasan gas metana (CH4) ke atmosfer. Gas CH4 pada lapisan stratosfer berperan sebagai gas rumah kaca (GRK) dan berefek pada munculnya pemanasan global. 
Oleh karena itu, diperlukan pengubahan sampah organik melalui cara yang ramah lingkungan. Dan penanganan sampah haru adanya campur tangan dari pihak pemerintah setempat. Peran pemerintah dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di desa dalam pengolahan sampah adalah melalui penyuluhan dan edukasi ke rumah warga tentang pemilahan sampah dan pelatihan yang diberikan langsung ke masyarakat.
Contohnya pelatihan budidaya maggot, pelatihan bikin kompos, pelatihan bikin MOL (Mikro Organisme Lokal) dan Ekoenzim. Peran kepala desa sangat vital karena berada di posisi terdepan yang setiap saat berkomunikasi dengan masyarakatnya. Bentuk dari peran kepala desa adalah memberikan motivasi kepada masyarakat untuk menyadari bahwa sampah itu adalah tanggung jawab bersama bukan hanya pemerintah.
Masukan dan evaluasi bagi pemerintah  dan masyarakat 
Melakukan edukadasi rumah ke rumah masyarakat gimana caranya memilah sampah dengan baik dan benar,karena sumber sampahnya dari rumah tangga. Monitoring dan evaluasi, setelah melakukan edukasi ke masyarakat, pemerintah perlu juga melakukan monitoring dan evaluasi ke masyarakat,karena kalaw tidak di monitoring dan di evaluasi lagi biasanya masyarakat masih bandel dan akan mencampur sampahnya lagi.
Anggaran, pemerintah harus mengadakan anggaran juga,karena sebagian besar masyarakat malas dan engan memilah dikarenakan mereka ngak punya tempat pemilahan,dan itu akan menjadi alasan masyarakat ngak mau memilah. Percepatan kebijakan ( perarem) di masing masing desa adat, selama ini proses pembikinan (perarem) masih lama, kalau pemerintah bisa mempercepat kebijakan perarem di setiap desa adat, mungkin akan mempermudah dan mempercepat bagi petugas pengangkut sampahnya karena sampahnya sudah terpilah.
Karena adanya awig awig atau perarem yang sudah sah pasti masyarakat akan mau mengikutinya, karena masyarakat takut kena sanksi sosial.
Pendidikan sejak dini ke sekolah tentang pemilahan sampah, melakukan penyuluhan atau sosyalisasi ke sekolah tentang 3R mengurangi,mengunakan kembali dan yang terahir mendaur ulang kembali.
Memfasilitasi pengembangan maggot di tingkat RT,melakukan pelatihan budidaya maggot ke warga yang mau membudidaya maggot ,karena ini salah satu solusi untuk mengurangi sampah makanan di campur dengan sampah anorganik yang dibuang langsung ke TPA.
Penulis :  Anom Mulyawan
Praktisi Budidaya Maggot PPLH Bali

Penulis : Opini

Editor : I Komang Robby Patria

Halaman :

TAGS : Sampah Dapur Pupuk Organik Maggot Memilah Sampah Berita Bali Berita Bahasa Bali Berita Berbahasa Bali Berita Bali Terkini Berita Bali Hari Ini Beritabali Informasi Bali


Beritabuleleng.com - Media Online Buleleng Bali Terkini

Menyajikan Berita Politik, Seksologi, Hukum, Kriminal, Wisata, Budaya, Tokoh, Ekonomi, Bisnis, Pendidikan di Buleleng, Bali, Nasional dan Dunia.



Opini Lainnya :


Berita Lainnya

Trending Opini

Berita Denpasar Terkini

Lihat Semua

Berita Bali TV